Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 04 Desember 2010

makalah pendidikan Nativisme

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami ucapkan kepada dosen mata kuliah terkait dan teman-teman yang telah memberikan kontribusi positif  demi terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin


Penulis










BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan  zaman  di  dunia  pendidikan  yang  terus  berubah  secara signifikan sehingga banyak merubah pola pikir  pendidik dan juga peserta didik, dari pola pikir  yang  awam dan kaku menjadi lebih modern dan kritis. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia.
Seperti yang tercantum dalam definisi pendidikan serta konsep dasar sistem pendidikan Indonesia.
Kamus  Bahasa  Indonesia,  1991:232,  Pendidikan  berasal  dari  kata  "didik",  Lalu  kata  ini mendapat  awalan  kata  "me"  sehingga menjadi  "mendidik"  artinya memelihara  dan memberi latihan.  Dalam  memelihara  dan  memberi  latihan  diperlukan  adanya  ajaran,  tuntutan  dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan  terencana untuk mewujudkan  suasana belajar dan proses pembelajaran  agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian  diri,  kepribadian,  kecerdasan,  akhlak mulia,  serta  keterampilan  yang  diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Adapun aliran Nativisme, secara umum sangat mempengaruhi terhadap sistem pendidikan, hal tersebut dapat terlihat dari konsepsi dasarnya tentang hakikat manusia itu sendiri. Menurut aliran Nativisme ini, manusia mempun­yai potensi yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan dalam proses penerimaan pengetahuan(pendidikan). Potensi tersebut merupakan "gabungan" dari hereditas orang tuanya maupun "bakat/pembawaan" yang berasal dari dirinya sendiri. Kontribusi lingkungan baginya tidaklah membawa konsekuensi apa-apa terhadap pengetahuan manusia. (Arthur Schopenhaur 1778-1860)
BAB II
PEMBAHASAN
1.         TEORI NATIVISME
a.      Pengertian Nativisme
Nativisme berasal dari kata Nativus yang berarti kelahiran. Teori ini muncul dari filsafat nativisma (terlahir) dari kata sebagai suatu bentuk dari filsafat idealisme dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh hereditas, pembawaan sejak lahir, dan faktor alam yang kodrati. Pelopor aliran Nativisme adalah Arthur Schopenhauer seorang filosof Jerman yang hidup tahun 1788-1880. Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan individu ditentukan oleh bawaan sejak ia dilahirkan. Faktor lingkungan sendiri dinilai kurang berpengaruh terhadap perkembangan dan pendidikan anak. Pada hakekatnya aliran Nativisme bersumber dari Leibnitzian Tradition, sebuah tradisi yang menekankan pada kemampuan dalam diri seorang anak. Hasil perkambangan ditentukan oleh pembawaan sejak lahir dan genetik dari kedua orang tua.
Misalnya, anak mirip orangtuanya secara fisik dan akan mewarisi sifat dan bakat orangtua. Prinsipnya, pandangan Nativisme adalah pengakuan tentang adanya daya asli yang telah terbentuk sejak manusia lahir ke dunia, yaitu daya-daya psikologis dan fisiologis yang bersifat herediter, serta kemampuan dasar lainnya yang kapasitasnya berbeda dalam diri tiap manusia.Ada yang tumbuh dan berkembang sampai pada titik maksimal kemampuannya, dan ada pula yang hanya sampai pada titik tertentu. Misalnya, seorang anak yang berasal dari orangtua yang ahli seni musik, akan berkembang menjadi seniman musik yang mungkin melebihi kemampuan orangtuanya, mungkin juga hanya sampai pada setengah kemampuan orangtuanya.
Walaupun dalam kenyataan sehari-hari sering ditemukan secara fisik anak mirip orang tuanya, secara bakat mewarisi bakat kedua orangtuanya, tetapi bakat pembawaan genetika itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan anak, tetapi masih ada faktor lain yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan anak menuju kedewasaan, mengetahui kompetensi dalam diri dan identitas diri sendiri (jatidiri).
Adapun aliran Nativisme, secara umum sangat dipenga­ruhi oleh pandangan-pandangan dari aliran Idealisme, terlihat dari konsepsi dasarnya tentang hakikat manusia itu sendiri. Menurut aliran Nativisme ini, manusia mempun­yai potensi yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan dalam proses penerimaan pengetahuan. Potensi tersebut merupakan "gabungan" dari hereditas orang tuanya maupun "bakat/pembawaan" yang berasal dari dirinya sendiri. Kontribusi lingkungan baginya tidaklah membawa konsekuensi apa-apa terhadap pengetahuan manusia. Bahkan Schopenhaur (1778-1860) --tokoh Nativisme-- mengatakan bahwa potensi/bakat manusia merupakan nasib malang manusia karena posisinya yang vital dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan manusia. Potensi manusia yang terwujud dalam bakat/pembawaan itulah yang merupakan hakikat dari manusia dan ia tidaklah dapat dirubah oleh pengaruh lingkungan. Dengan potensi ini, faktor lingkungan tidaklah berpengaruh pada proses penerimaan pengetahuan dan pendidikan manusia. Schopenhour mengkristalisasikan gagasannya dari konsep umum, bahwa alam semesta termasuk manusia, berjalan dan ditentukan oleh faktor "kemauan" yang ia anggap sebagai hakikat sesuatu. Hakikat manusia itu sendiri menurutnya --menjadi gagasan umum tokoh-tokoh Nativisme-- adalah kemauan itu sendiri yang terwujud ke dalam bakat dan pembawaan. Faktor hereditas dan pembawaan manusia dipandang sebagai hal yang urgen dan menentukan. Ia juga dianggap sebagai "ciri khas" dari kepribadian manusia dan bukanlah hasil hasil dari pendidikan karena kalau ia merupakan hasil dari pendidikan, maka tentu faktor eksternal (ling­kungan) sangat berperan terhadapnya. Hal Ini sangat kon­tradiktif dengan pandangan dasar aliran filsafat Nativisme tersebut. Tingkat pendidikan seseorang dengan demikian sangat berkaitan dengan faktor hereditas dan pembawaan ini, karena ia menjadi "format" sekaligus "modal utama" dari tingkat pendidikan tersebut. Seorang yang berbakat dan mempunyai pembawaan yang rendah dalam suatu bidang pengetahuan, maka ia tidak akan pernah menguasai bidang pengetahuan tersebut walaupun ia telah berupaya semaksimal mungkin. Dengan pandangan-pandangan seperti ini, aliran Nativisme dituduh sebagai aliran filsafat yang mengabaikan aspek pendidikan bahkan disebut aliran pesimisme. Namun apabila dilihat secara lebih mendalam, julukan "pesimisme" terhadap aliran Nativisme ini tidaklah tepat secara kese­luruhan. beberapa hal dari pandangan-pandangan aliran ini justru merupakan "pendorong" bagi berbagai upaya "preven­tif" terhadap bakat dan pembawaan yang merupakan potensi manusia.

b.   Faktor perkembangan manusia dalam teori nativisme                            
1.      Faktor Genetic.
Adalah factor gen dari kedua orangtua yang mendorong adanya suatu bakat yang muncul dari diri manusia. Contohnya adalah Jika kedua orangtua anak itu adalah seorang penyanyi maka anaknya memiliki bakat pembawaan sebagai seorang penyanyi yang prosentasenya  besar.
2.      Faktor Kemampuan Anak
Adalah factor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi yang terdapat dalam dirinya. Faktor ini lebih nyata karena anak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Contohnya adalah adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang mendorong setiap anak untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sesuai dengan bakat dan minatnya.
3.      Faktor pertumbuhan Anak
Adalah factor yang mendorong anak mengetahui bakat dan minatnya di setiap pertumbuhan dan perkembangan secara alami sehingga jika pertumbuhan anak itu normal maka dia kan bersikap enerjik, aktif, dan responsive terhadap kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, jika pertumbuhan anak tidak normal maka anak tersebut tidak bisa mngenali bakat dan kemampuan yang dimiliki.
c.       Tujuan-Tujuan Teori Nativisme
Didalam teori ini menurut G. Leibnitz:Monad “Didalam diri individu manusia terdapat suatu inti pribadi”. Sedangkan dalam teori Teori Arthur Schopenhauer (1788-1860) dinyatakan bahwa perkembangan manusia merupakan pembawaan sejak lahir/bakat. Sehingga dengan teori ini setiap manusia diharapkan:
1.   Mampu memunculkan bakat yang dimiliki
Dengan teori ini diharapkan manusia bisa mengoptimalkann bakat yang dimiliki dikarenakan telah mengetahui bakat yang bisa dikembangkannya. Dengan adanya hal ini, memudahkan manusia mengembangkan sesuatu yang bisa berdampak besar terhadap kemajuan dirinya.
2.   Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi
Jadi dengan teori ini diharapkan setiap manusia harus lebih kreatif dan inovatif dalam upaya pengembangan bakat dan minat agar menjadi manusia yang berkompeten sehingga bisa bersaing dengan orang lain dalam menghadapi tantangan zaman sekarang yang semakin lama semakin dibutuhkan manusia yang mempunyai kompeten lebih unggul daripada yang lain.
3.   Mendorong manusia dalam menetukan pilihan
Adanya teori ini manusia bisa bersikap lebih bijaksana terhadap menentukan pilihannya, dan apabila telah menentukan pilihannya manusia tersebut akan berkomitmen dan berpegang teguh terhadap pilihannya tersebut dan meyakini bahwa sesuatu yang dipilihnya adalah yang terbaik untuk dirinya.


4.   Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang
Teori ini dikemukakan untuk menjadikan manusia berperan aktif dalam pengembangan potensi diri yang dimilii agar manusia itu memiliki ciri khas atau ciri khusus sebagai jati diri manusia.
5.   Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki.
Dengan adanya teori ini, maka manusia akan mudah mengenali bakat yang dimiliki, denga artian semakin dini manusia mengenali bakat yang dimiliki maka dengan hal itu manusia dapat lebih memaksimalkan baakatnya sehingga bisa lebih optimal.
d.                           Pengaruh Teori Nativisme terhadap pendidikan di Indonesia
Faktor pembawaan bersifat kodrati tidak dapat diubah oleh pengaruh alam sekitar dan pendidikan (Arthur Schaupenhauer (1788-1860)). Untuk mendukung teori tersebut di era sekarang banyak dibuka pelatihan dan kursus untuk pengembangan bakat sehingga bakat yang dibawa sejak lahir itu dilatih dan dikembangkan agar setiap individu manusia mampu mengolah potensi diri. Sehingga potensi yang ada dalam diri manusia tidak sia-sia kerena tidak dikembangkan, dilatih dan dimunculkan.
Tetapi pelatihan yang diselenggarakan itu didominasi oleh orang-orang yang memang mengetahui bakat yang dimiliki, sehingga pada pengenalan bakat dan minat pada usia dini sedikit mendapat paksaan dari orang tua dan hal itu menyebabkan bakat dan kemampuan anak cenderung tertutup bahkan hilang karena sikap otoriter orangtua yang tidak mempertimbangkan bakat, kemampuan dan minat anak. Lembaga pelatihan ini dibuat agar menjadi suatu wadah untuk menampung suatu bakat agar kemampuan yang dimiliki oleh anak dapat tersalurkan dan berkembang dengan baik sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal.


BAB III
KESIMPULAN
 Dengan demikian, menurut aliran Nativisme, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. nativisme berpendapat, jika anak memiliki bakat jahat dari lahir  ia akan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, maka ia akan menjadi baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri. Tetapi, teori ini juga tidak bisa dipungkiri dari kenyataan bahwa hasil perkembangan anak ditentukan oleh pembawaan sejak lahir dan genetic dari kedua orangtuanya.
Walaupun dalam kenyataan sehari – hari sering ditemukan secara fisik anak mirip orang tuanya, secara bakat mewarisi bakat kedua orang tuanya, tetapi bakat pembawaan genetika itu bukan satu – satunya factor yang menentukan perkembangan anak, tetapi masih ada factor lain yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan anak menuju kedewasaan, mengetahui kompetensi dalam diri dan identitas diri sendiri ( jati diri ).

1 komentar:

  1. saya setuju dengan kesimpulan yang mba Ima tulis karena sesungguhnya anak lahir bagaikan kertas putih yang bersih tak ternoda jadi pendidikan dan dunia luarlah yang memberikan kontribusi dalam membentuk karakter anak, termasuk di dalamnya qodho dan qadar

    BalasHapus