FREE Blogger Templates

Sabtu, 04 Desember 2010

makalah pendidikan Nativisme

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami ucapkan kepada dosen mata kuliah terkait dan teman-teman yang telah memberikan kontribusi positif  demi terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin


Penulis










BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan  zaman  di  dunia  pendidikan  yang  terus  berubah  secara signifikan sehingga banyak merubah pola pikir  pendidik dan juga peserta didik, dari pola pikir  yang  awam dan kaku menjadi lebih modern dan kritis. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia.
Seperti yang tercantum dalam definisi pendidikan serta konsep dasar sistem pendidikan Indonesia.
Kamus  Bahasa  Indonesia,  1991:232,  Pendidikan  berasal  dari  kata  "didik",  Lalu  kata  ini mendapat  awalan  kata  "me"  sehingga menjadi  "mendidik"  artinya memelihara  dan memberi latihan.  Dalam  memelihara  dan  memberi  latihan  diperlukan  adanya  ajaran,  tuntutan  dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan  terencana untuk mewujudkan  suasana belajar dan proses pembelajaran  agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian  diri,  kepribadian,  kecerdasan,  akhlak mulia,  serta  keterampilan  yang  diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Adapun aliran Nativisme, secara umum sangat mempengaruhi terhadap sistem pendidikan, hal tersebut dapat terlihat dari konsepsi dasarnya tentang hakikat manusia itu sendiri. Menurut aliran Nativisme ini, manusia mempun­yai potensi yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan dalam proses penerimaan pengetahuan(pendidikan). Potensi tersebut merupakan "gabungan" dari hereditas orang tuanya maupun "bakat/pembawaan" yang berasal dari dirinya sendiri. Kontribusi lingkungan baginya tidaklah membawa konsekuensi apa-apa terhadap pengetahuan manusia. (Arthur Schopenhaur 1778-1860)
BAB II
PEMBAHASAN
1.         TEORI NATIVISME
a.      Pengertian Nativisme
Nativisme berasal dari kata Nativus yang berarti kelahiran. Teori ini muncul dari filsafat nativisma (terlahir) dari kata sebagai suatu bentuk dari filsafat idealisme dan menghasilkan suatu pandangan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh hereditas, pembawaan sejak lahir, dan faktor alam yang kodrati. Pelopor aliran Nativisme adalah Arthur Schopenhauer seorang filosof Jerman yang hidup tahun 1788-1880. Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan individu ditentukan oleh bawaan sejak ia dilahirkan. Faktor lingkungan sendiri dinilai kurang berpengaruh terhadap perkembangan dan pendidikan anak. Pada hakekatnya aliran Nativisme bersumber dari Leibnitzian Tradition, sebuah tradisi yang menekankan pada kemampuan dalam diri seorang anak. Hasil perkambangan ditentukan oleh pembawaan sejak lahir dan genetik dari kedua orang tua.
Misalnya, anak mirip orangtuanya secara fisik dan akan mewarisi sifat dan bakat orangtua. Prinsipnya, pandangan Nativisme adalah pengakuan tentang adanya daya asli yang telah terbentuk sejak manusia lahir ke dunia, yaitu daya-daya psikologis dan fisiologis yang bersifat herediter, serta kemampuan dasar lainnya yang kapasitasnya berbeda dalam diri tiap manusia.Ada yang tumbuh dan berkembang sampai pada titik maksimal kemampuannya, dan ada pula yang hanya sampai pada titik tertentu. Misalnya, seorang anak yang berasal dari orangtua yang ahli seni musik, akan berkembang menjadi seniman musik yang mungkin melebihi kemampuan orangtuanya, mungkin juga hanya sampai pada setengah kemampuan orangtuanya.
Walaupun dalam kenyataan sehari-hari sering ditemukan secara fisik anak mirip orang tuanya, secara bakat mewarisi bakat kedua orangtuanya, tetapi bakat pembawaan genetika itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan anak, tetapi masih ada faktor lain yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan anak menuju kedewasaan, mengetahui kompetensi dalam diri dan identitas diri sendiri (jatidiri).
Adapun aliran Nativisme, secara umum sangat dipenga­ruhi oleh pandangan-pandangan dari aliran Idealisme, terlihat dari konsepsi dasarnya tentang hakikat manusia itu sendiri. Menurut aliran Nativisme ini, manusia mempun­yai potensi yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan dalam proses penerimaan pengetahuan. Potensi tersebut merupakan "gabungan" dari hereditas orang tuanya maupun "bakat/pembawaan" yang berasal dari dirinya sendiri. Kontribusi lingkungan baginya tidaklah membawa konsekuensi apa-apa terhadap pengetahuan manusia. Bahkan Schopenhaur (1778-1860) --tokoh Nativisme-- mengatakan bahwa potensi/bakat manusia merupakan nasib malang manusia karena posisinya yang vital dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan manusia. Potensi manusia yang terwujud dalam bakat/pembawaan itulah yang merupakan hakikat dari manusia dan ia tidaklah dapat dirubah oleh pengaruh lingkungan. Dengan potensi ini, faktor lingkungan tidaklah berpengaruh pada proses penerimaan pengetahuan dan pendidikan manusia. Schopenhour mengkristalisasikan gagasannya dari konsep umum, bahwa alam semesta termasuk manusia, berjalan dan ditentukan oleh faktor "kemauan" yang ia anggap sebagai hakikat sesuatu. Hakikat manusia itu sendiri menurutnya --menjadi gagasan umum tokoh-tokoh Nativisme-- adalah kemauan itu sendiri yang terwujud ke dalam bakat dan pembawaan. Faktor hereditas dan pembawaan manusia dipandang sebagai hal yang urgen dan menentukan. Ia juga dianggap sebagai "ciri khas" dari kepribadian manusia dan bukanlah hasil hasil dari pendidikan karena kalau ia merupakan hasil dari pendidikan, maka tentu faktor eksternal (ling­kungan) sangat berperan terhadapnya. Hal Ini sangat kon­tradiktif dengan pandangan dasar aliran filsafat Nativisme tersebut. Tingkat pendidikan seseorang dengan demikian sangat berkaitan dengan faktor hereditas dan pembawaan ini, karena ia menjadi "format" sekaligus "modal utama" dari tingkat pendidikan tersebut. Seorang yang berbakat dan mempunyai pembawaan yang rendah dalam suatu bidang pengetahuan, maka ia tidak akan pernah menguasai bidang pengetahuan tersebut walaupun ia telah berupaya semaksimal mungkin. Dengan pandangan-pandangan seperti ini, aliran Nativisme dituduh sebagai aliran filsafat yang mengabaikan aspek pendidikan bahkan disebut aliran pesimisme. Namun apabila dilihat secara lebih mendalam, julukan "pesimisme" terhadap aliran Nativisme ini tidaklah tepat secara kese­luruhan. beberapa hal dari pandangan-pandangan aliran ini justru merupakan "pendorong" bagi berbagai upaya "preven­tif" terhadap bakat dan pembawaan yang merupakan potensi manusia.

b.   Faktor perkembangan manusia dalam teori nativisme                            
1.      Faktor Genetic.
Adalah factor gen dari kedua orangtua yang mendorong adanya suatu bakat yang muncul dari diri manusia. Contohnya adalah Jika kedua orangtua anak itu adalah seorang penyanyi maka anaknya memiliki bakat pembawaan sebagai seorang penyanyi yang prosentasenya  besar.
2.      Faktor Kemampuan Anak
Adalah factor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi yang terdapat dalam dirinya. Faktor ini lebih nyata karena anak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Contohnya adalah adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang mendorong setiap anak untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sesuai dengan bakat dan minatnya.
3.      Faktor pertumbuhan Anak
Adalah factor yang mendorong anak mengetahui bakat dan minatnya di setiap pertumbuhan dan perkembangan secara alami sehingga jika pertumbuhan anak itu normal maka dia kan bersikap enerjik, aktif, dan responsive terhadap kemampuan yang dimiliki. Sebaliknya, jika pertumbuhan anak tidak normal maka anak tersebut tidak bisa mngenali bakat dan kemampuan yang dimiliki.
c.       Tujuan-Tujuan Teori Nativisme
Didalam teori ini menurut G. Leibnitz:Monad “Didalam diri individu manusia terdapat suatu inti pribadi”. Sedangkan dalam teori Teori Arthur Schopenhauer (1788-1860) dinyatakan bahwa perkembangan manusia merupakan pembawaan sejak lahir/bakat. Sehingga dengan teori ini setiap manusia diharapkan:
1.   Mampu memunculkan bakat yang dimiliki
Dengan teori ini diharapkan manusia bisa mengoptimalkann bakat yang dimiliki dikarenakan telah mengetahui bakat yang bisa dikembangkannya. Dengan adanya hal ini, memudahkan manusia mengembangkan sesuatu yang bisa berdampak besar terhadap kemajuan dirinya.
2.   Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi
Jadi dengan teori ini diharapkan setiap manusia harus lebih kreatif dan inovatif dalam upaya pengembangan bakat dan minat agar menjadi manusia yang berkompeten sehingga bisa bersaing dengan orang lain dalam menghadapi tantangan zaman sekarang yang semakin lama semakin dibutuhkan manusia yang mempunyai kompeten lebih unggul daripada yang lain.
3.   Mendorong manusia dalam menetukan pilihan
Adanya teori ini manusia bisa bersikap lebih bijaksana terhadap menentukan pilihannya, dan apabila telah menentukan pilihannya manusia tersebut akan berkomitmen dan berpegang teguh terhadap pilihannya tersebut dan meyakini bahwa sesuatu yang dipilihnya adalah yang terbaik untuk dirinya.


4.   Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang
Teori ini dikemukakan untuk menjadikan manusia berperan aktif dalam pengembangan potensi diri yang dimilii agar manusia itu memiliki ciri khas atau ciri khusus sebagai jati diri manusia.
5.   Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki.
Dengan adanya teori ini, maka manusia akan mudah mengenali bakat yang dimiliki, denga artian semakin dini manusia mengenali bakat yang dimiliki maka dengan hal itu manusia dapat lebih memaksimalkan baakatnya sehingga bisa lebih optimal.
d.                           Pengaruh Teori Nativisme terhadap pendidikan di Indonesia
Faktor pembawaan bersifat kodrati tidak dapat diubah oleh pengaruh alam sekitar dan pendidikan (Arthur Schaupenhauer (1788-1860)). Untuk mendukung teori tersebut di era sekarang banyak dibuka pelatihan dan kursus untuk pengembangan bakat sehingga bakat yang dibawa sejak lahir itu dilatih dan dikembangkan agar setiap individu manusia mampu mengolah potensi diri. Sehingga potensi yang ada dalam diri manusia tidak sia-sia kerena tidak dikembangkan, dilatih dan dimunculkan.
Tetapi pelatihan yang diselenggarakan itu didominasi oleh orang-orang yang memang mengetahui bakat yang dimiliki, sehingga pada pengenalan bakat dan minat pada usia dini sedikit mendapat paksaan dari orang tua dan hal itu menyebabkan bakat dan kemampuan anak cenderung tertutup bahkan hilang karena sikap otoriter orangtua yang tidak mempertimbangkan bakat, kemampuan dan minat anak. Lembaga pelatihan ini dibuat agar menjadi suatu wadah untuk menampung suatu bakat agar kemampuan yang dimiliki oleh anak dapat tersalurkan dan berkembang dengan baik sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal.


BAB III
KESIMPULAN
 Dengan demikian, menurut aliran Nativisme, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. nativisme berpendapat, jika anak memiliki bakat jahat dari lahir  ia akan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, maka ia akan menjadi baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri. Tetapi, teori ini juga tidak bisa dipungkiri dari kenyataan bahwa hasil perkembangan anak ditentukan oleh pembawaan sejak lahir dan genetic dari kedua orangtuanya.
Walaupun dalam kenyataan sehari – hari sering ditemukan secara fisik anak mirip orang tuanya, secara bakat mewarisi bakat kedua orang tuanya, tetapi bakat pembawaan genetika itu bukan satu – satunya factor yang menentukan perkembangan anak, tetapi masih ada factor lain yang mempengaruhi perkembangan dan pembentukan anak menuju kedewasaan, mengetahui kompetensi dalam diri dan identitas diri sendiri ( jati diri ).

makalah pendidikan konvergensi


KATA  PENGANTAR

Segala  puji  hanya  milik  Allah.  Sholawat  dan  salam  kepada  Rasulullah.  Berkat  limpahan  rahmat-Nya  penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah  ini.
Pendidikan  sebagai  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dalam  makalah  ini  kami  akan  membahas  masalah “Pendidikan Dalam Persfektif  Konvergensi.”
Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan  kontribusi  kepada  mahasiswa  sekolah tinggi keguruan dan ilmu pengtahuan sebagai bekal pengetahuan di bidang pendidikan. 
Dan  tentunya  makalah  ini  masih  sangat  jauh  dari sempurna. Untuk  itu kepada dosen kami minta masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah  kami  di  masa  yang  akan  datang.



                                                                             Cisurupan,  22 November 2010
                                                                                               Penyusun,


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Pentingnya Pendidikan
Berbicara tentang pendidikan kita semua pasti sudah tahu bahwa betapa pentingnya hal tersebut. Pendidikan,kemampuan,pengetahuan merupakan salah satu modal yang kita miliki untuk hidup di zaman yang serba sulit ini. Mengapa dikatakan demikian? Kita tentu sudah bisa menjawabnya,apa hal pertama yang dilihat bila kita ingin mengajukan surat lamaran perkerjaan?Apa yang kita butuhkan ketika ingin memulai suatu bisnis atau usaha? Tentu saja pendidikan,kemampuan,wawasan dan pengetahuanlah yang kita butuhkan.
Di dalam bangku pendidikan banyak sekali hal yang kita dapatkan. Tetapi entah mengapa banyak sekali warga di Indonesia ini yang tidak mengenyam bangku pendidikan sebagaimana mestinya,khususnya di daerah-daerah terpencil di sekitar wilayah Indonesia ini. Mungkin karena memang mereka mempunyai jalan pikiran yang sempit atau mungkin juga karena otak mereka tidak mampu untuk mengikuti pelajaran di bangku pendidikan tersebut. Jadi faktor ekonomi bukan penyebab utamanya tadi di gambarkan di atas merupakan sedikit pandangan mengenai pentingnya pendidikan bagi kehidupan,pendidikan sebagai modal pegangan hidup kita. Karena pendidikan,pengetahuan.wawasan dan kemampuanlah yang akan membawa kita menuju kesuksesan. Tapi tidak kita pungkiri juga bahwa di Negara ini masih banyak sekali masalah-masalah yang menyangkut dunia pendidikan kita
Kondisi pendidikan kita saat ini begitu menyedihkan. ada banyak hal yang harus dibenahi dalam pendidikan kita ini, mengingat pendidikan adalah investasi  masa depan bangsa dan pengaruh dinamis terhadap perkembangan jasmani dan rohani atau kejiwaan anak bangsa kita , dimana mereka dididik agar bisa meneruskan gerak langkah kehidupan bangsa ini agar menjadi bangsa yang maju, berpendidikan dan bermoral. ini tentunya akan menjadi tugas dan tanggung jawab banyak pihak , orang tua, para pendidik (sekolah), masyarakat dan juga pemerintah. kewajiban kita untuk mengembalikan kondisi pendidikan kita ini agar menjadi pendidikan yang terbaik, bermutu serta cerdas dalam IPTEK dan IMTAQ. pendidikan yang bertujuan untuk membentuk generasi muda menjadi manusia haruslah menyangkut unsur-unsur spiritual, moralitas, sosialitas dan rasionalita, tidak hanya menekankan segi pengetahuan saja (kognitif)tetapi harus menekankan segi emosi, rohani dan hidup bersama. begitu juga dengan Ujian Nasional yang pemerintah canangkan sebagai bentuk penilaian terhadap hasil belajar siswa. kegiatan ini hendaknya tidak hanya sekedar menguji akan kemampuan siwa dalam hal lmu pengetahuan, akan tetapi juga menguji akan kemmpuan siswa dalam kerohaniannya. sesuai dengan tujuan dalam UU bahwa peserta didik hendaknya memiliki kekuatan spiritual keagamaan.

1.2         Pendidikan akan Dipengaruhi oleh Aliran Pendidikan
Pendidikan yang diberikan harus didasarkan atas landasan pelaksanaan pendidikan, kebutuhan peserta didik serta tujuan yang hendak dicapai lewat proses pendidikan tersebut. Ketiga hal tersebut dalam kaca mata filsafat pendidikan dipengaruhi oleh berbagai aliran atau mazhab pendidikan yang telah dikenalkan dan dikembangkan oleh para ahli
Kajian tentang berbagai aliran pendidikan tersebut berguna sebagai bahan untuk menambah pengetahuan dan wawasan para tenaga kependidikan. Hal ini sangat penting agar para tenaga kependidikan dapat memahami dan memberikan konstribusi terhadap dinamika pendidikan dalam sebuah kondisi masyarakat.
Filsafat pendidikan adalah studi ihwal tujuan, hakikat dan isi yang ideal dari pendidikan. Pada intinya filsafat pendidikan mempertanyakan sejumlah pertanyaan penting sebagai berikut : pengetahuan apa yang paling berharga, pengetahuan apa yang mesti diajarkan, apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan, bagaimana manusia belajar, bagaimana sebaiknya hubungan antara guru dan siswa. Untuk menjawab kelima pertanyaan di atas terdapat sejumlah mazhab atau aliran filsafat yang lazim dirujuk dalam pendidikan, yaitu : empiris, nativisme, dan konvergensi. Pendidikan dapat dikatakan sebagai sebuah usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengenalkan manusia terhadap realita kehidupannya. Dalam hal tersebut secara jelas bahwa pendidikan yang diberikan harus didasarkan atas landasan pelaksanaan pendidikan, kebutuhan peserta didik serta tujuan yang hendak dicapai lewat proses pendidikan tersebut. Ketiga hal tersebut dalam kaca mata filsafat pendidikan dipengaruhi oleh berbagai aliran atau mazhab pendidikan yang telah dikenalkan dan dikembangkan oleh para ahli.
Walaupun kenyataannya berbagai pemikiran yang kemudian menjadi “mazhab” dalam penyelenggaraan pendidikan dicetuskan beberapa puluh tahun yang lalu, bahkan beberapa ratus tahun yang lalu, namun nampak nyata bahwasanya pemikiran tersebut sangat mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan pada masa kini. Pemikiran para ahli tersebut lazimnya dikatakan sebagai aliran pendidikan atau ada pula yang menamakan sebagai mazhab filsafat pendidikan. Contoh daripada aliran-aliran tersebut ialah empiris, nativisme, dan konvergensi. Kesemua aliran tersebut memiliki ciri yang khas baik dari segi tujuan maupun metoda pengajaran dalam pendidikan yang telah dicetuskan oleh para ahli.
Kajian tentang berbagai aliran pendidikan tersebut berguna sebagai bahan untuk menambah pengetahuan dan wawasan para tenaga kependidikan. Hal ini sangat penting agar para tenaga kependidikan dapat memahami dan memberikan konstribusi terhadap dinamika pendidikan dalam sebuah kondisi masyarakat. Disamping itu para tenaga kependidikan juga diharapkan dapat memiliki bekal dalam mewujudkan tujuan pendidikan.













BAB II
PEMBAHASAN

2.1              Aliran Pendidikan Konvergensi
2.1.1        Tokoh yang Menyampaikan Gagasan Aliran Pendidikan Konvergensi
Aliran ini dipelopori oleh William Stern, seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan jerman yang berpendapat bahwa penmbawaan dan lingkungan keduanya menentukan perkembangan manusia, sehingga aliran ini merupakan kompromomi atau kombinasi dari nativisme dengan empirisme
Konvergensi berasal dari kata Convergative yang berarti penyatuan hasil atau kerja sama untuk mencapai suatu hasil. William Stern mengatakan bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dibawa sejak lahir itu merupakan petunjuk-petunjuk nasib manusia yang akan datang dengan ruang permainan. Dalam ruang permainan itulah terletak pendidikan dalam arti yang sangat luas. Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong tetapi bukanlah ia yang menyebabkan perkembangan itu, karena ini datangnya dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong. Sebagai contoh : anak dalam tahun pertama belajar mengoceh, baru kemudian becakap-cakap, dorongan dan bakat itu telah ada, di meniru suara-suara dari ibunya dan orang disekelilingnya. Ia meniru dan mendebgarkan dari kata-kata yang diucapkan kepadanya, bakat dan dorongan itu tidak akan berkembang jika tidak ada bantuan dari luar yang merangsangnya. Dengan demikian jika tidak ada bantuan suara-suara dari luar atau kata-kata yang di dengarnya tidak mungkin anak tesebut bisa bercakap-cakap.

2.1.2        Karakteristik Aliran Pendidikan Konvergensi
Paham konvergensi ini berpendapat,bahwa didalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu,akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang.
          Karena itu  teori W. Stern disebut teori konvergensi ( konvergen artinya memusat kesatu titik).  Jadi menurut teori konvergensi :
1)     Pendidikan mungkin dilaksanakan.
2)    Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah  berkembangnya potensi yang kurang baik.
3)    Yang membatasi hasil pendidikan  adalah pembawaan dan lingkungan.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia.  Meskipun demikian terdapat variasi mengenai faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh kembang itu.  Seperti telah dikemukakan bahwa variasi-variasi itu tersecrmin  antara lain dalam perbedaan pandangan  tentang strategi yang tepat untuk memahami  perilaku manusia,  seperti strategi disposisional/konstitusional,  startegi phenomenologis/humanistic,  startegi behavior, startegi psikodinamik/psiko analitik, dan sebagainya.  Demikian pula halnya dalam belajar mengajar;  variasi pendapat itu telah  menyebabkan munculnya berbagai  teori  belajar mengajar dan atau teori/model mengajar.  Sebagai contoh dikenal  berbagai  pendapat tentang model-model  mengajar seperti  rumpun model behavior ( umpan model belajar tuntas,  model belajar control diri sendiri,  model belajar simulasi,  dan model belajar asertif),  model belajar pemmrosesan informasi ( model belajar inkuiri,  model persentase kerangka dasar,  atau advance organizer,  dan model pengembangan berfikir), dan lain-lain.  Dari sisi-sisi lain, variasi  pendapat itu juga  melahirkan berbagai  pendapat gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator atau informatory,  teknik penilaian pencapaian siswa  dengan tges objektif atau tes esai,  perumusan tujuan  pengajaran  yang sangat behavior,  penekanan pada peran teknologi pengajaran.
Demikian pula hal nya dalam belajar mengajar variasi pendapat itu dapat menyebabkan munculnya teori belajar atau teori mengajar. Sebagai contoh, dikenal berbagai pendapat tentang model-model mengajar seperti rumpun model behaviorer(umpama model belajar tuntas) model belajar control diri sendiri, model belajar simulasi, dan model belajar asertif, rumpun model pemprosesan informasi (model belajar inkuiri, model presentase kerangka dasar atau advance organizer, dan model perkembangan berfikir) dari sisi lain, variasi pendapat itu berbagai pendapat atau gagasan tentang belajar mengajar seperti peran guru sebagai fasilitator atau informator, teknik pencapaian penilaian siswa dengan tes objektif atau tes essai, perumusan tujuan yang sangat behavioral, penekanan pada peran teknologi pengajaran dll.
2.2              Pengaruh Aliran Pendidikan Konvergensi Terhadap Pendidikan di Indonesia.
2.2.1.      Masa Revolusi Kemerdekaan
Faham konvergensi bukanlah hal yang baru dalam sistem pendidikan formal di Indonesia. Pengaruh faham ini sudah terlihat sejak pertama kali dirumuskannya sistem pendidikan nasional di Indonesia oleh Ki Hajar Dewantara. Secara eksplisit Ki Hajar Dewantoro pernah menyatakan dalam tulisannya bahwa segala alat, usaha, dan cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan. Selain itu Ki Hajar Dewantara juga mengatakan, ”Pendidikan itu hanya suatu “tuntunan“ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita”. Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa selain menyadari sangat pentingnya pendidikan bagi proses tumbuhkembangnya karakter dan kemampuan seseorang, beliau juga mengakui adanya peran yang cukup penting dari faktor dasar/pembawaan, yang disebutnya sebagai kekuasaan kodrati.
2.2.2.      Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Walaupun belum begitu meluas penerapannya, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebenarnya sudah mulai diterapkan oleh para pendidikan di Indonesia pada akhir tahun 1970. (Cece Wijaya, et.al.,1992). Secara harfiah, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dapat diartikan sebagai suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra (domain) kognitif, afektif, dan psikomotorik. Metode ini dapat dikatakan sebagai ‘pendidikan yang berpusat pada anak’, karena dalam proses belajarnya yang berperan sebagai pengolah bahan ajar adalah siswa sendiri, sedangkan guru hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah proses belajar-mengajarnya.
Dalam bukunya yang berjudul “Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan Pengajaran” Cece Wijaya et.al. menyatakan bahwa Belajar mengajar dapat dikatakan bermakna dan berkadar CBSA bila terdapat ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun dan membuat perncanaan proses belajar-mengajar.
Adanya keterlibatan intelektual emosional siswa, baik melalui kegiatan mengalami, manganalisis, berbuat, maupun pembentukan sikap.
2.      Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses belajar-mengajar.
3.      Guru bertindak sebagai fasilitator dan koordinator kegiatan belajar siswa
Menggunakan multi metode dan multi media.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam sistem (CBSA) pengakuan dan perhatian terhadap potensi dasar/pembawaan anak sangatlah penting. Disamping itu perhatian juga diarahkan pada pengkondisian lingkungan tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar dengan sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dan pendidikan secara keseluruhan dapat berlangsung lebih bermakna. Dengan kata lain melalui sistem CBSA belajar itu dipandang sebagai proses interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dengan demikian maka penerapan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebenarnya secara prinsif merupakan implementasi dari faham konvergensi dalam pendidikan.
2.2.3.      Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah.
Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.
Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada :(1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya.
Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
-          Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
-          Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
-          Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
-          Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
-          Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Salah satu prinsip dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah berpusatnya pendidikan pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komperehensif. Ini merupakan upaya memandirikan siswa untuk belajar, bekerjasama, dan menilai diri sendiri agar siswa mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya.
Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pergeseran penekanan dalam kurikulum dari isi (APA yang tertuang) ke kompetensi (BAGAIMANA harus berpikir, belajar, bersikap dan melakukan). Oleh karena itu guru dan siswa diharapkan dapat mengetahui apa yang harus dicapai dan sejauhmana efektivitas belajar telah dicapai. Tetapi pada pelaksanaannya, secara prinsip metode yang diterapkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi relatif tidak terlalu berbeda dengan metode CBSA, dimana penekanan proses belajarnya tetap berpusat pada siswa. Dengan demikian melalui metode KBK pun proses pendidikan di Indonesia tetap mengacu pada pandangan tentang pentingnya faktor dasar/pembawaan dan peranan lingkungan dalam pembentukkan pribadi sebagai produk pendidikan. Dengan kata lain jiwa dari KBK sesungguhnya inti dari faham konvergensi pula.
















BAB III
KESIMPULAN
Aliran Konvergensi Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting.
Aliran konvergenSI pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia.  Meskipun demikian terdapat variasi mengenai factor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuhh kembang itu.  Seperti telah dikemukakan bahwa variasi-variasi itu tersecrmin  antara lain dalam perbedaan pandangan  tentang strategi yang tepat untuk memahami  perilaku manusia,  seperti strategi disposisional/konstitusional,  startegi phenomenologis/humanistic,  startegi behavior, startegi psikodinamik/psiko analitik, dan sebagainya.  Demikian pula halnya dalam belajar mengajar;  variasi pendapat itu telah  menyebabkan muncunya berbagai  teori  belajar mengajar dan atau teori/model mengajar.  Sebagai contoh dikenal  berbagai  pendapat tentang model-model  mengajar seperti  rumpun model behavior ( umpan model belajar tuntas,  model belajar control diri sendiri,  model belajar simulasi,  dan model belajar asertif),  model belajar pemmrosesan informasi ( model belajar inkuiri,  model persentase kerangka dasar,  atau advance organizer,  dan model pengembangan berfikir), dan lain-lain.  Dari sisi-sisi lain, variasi  pendapat itu juga  melahirkan berbagai  pendapat gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator atau informatory,  teknik penilaian pencapaian siswa  dengan tges objektif atau tes esai,  perumusan tujuan  pengajaran  yang sangat behavior,  penekanan pada peran teknologi pengajaran.